wawancara

Maman Imanulhaq Faqih (2)

Modernisasi rusak kesakralan Makkah

Arab Saudi mesti merevitalisasi sejarah demi kelanggengan rezim Bani Saud.

25 Maret 2016 14:30

Coba bayangkan kalau masjid di lingkungan Anda berdempetan dengan hotel dan mal. Kemungkinan besar banyak orang menolak dan menuntut bangunan itu digusur karena tidak pantas.

Tapi di kota suci Makkah dan Madinah mal dan hotel bersebelahan dengan Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi. Dan tidak ada negara-negara Islam mendesak Arab Saudi buat merobohkan bangunan duniawi itu.

Ironisnya lagi, perluasan Masjid Al-Haram dan pembangunan hotel dan mal telah melenyapkan situs-situs sejarah Islam. Sebagai contoh rumah tempat tinggal Nabi Muhammad dan Khadijah dijadikan toilet. Apakah pantas?

Dr Irfan al-Alawi pernah bilang kepada Albalad.co awal tahun lalu, sudah terlambat buat menyelamatkan Makkah. Hingga kini sudah 98 persen situs sejarah Islam di sana dilenyapkan penguasa Bani Saud.

Menurut Kiai Maman Imanulhaq Faqih, anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Kebangkitan Bangsa, modernisasi dilakukan Arab Saudi terhadap Makkah dan Madinah bertentangan dengan prinsip puritanisasi Islam mereka agungkan. "Arab Saudi harus membuktikan kata-katanya melakukan puritanisasi Islam. Mulai saja dari diri sendiri dulu," katanya.

Berikut penjelasan Maman Imanulhaq Faqih saat ditemui Faisal Assegaf dari Albalad.co Selasa pekan lalu di ruang kerjanya.

Apakah menurut Anda modernisasi Makkah sudah kebablasan?

Kalau melihat dari awal, berkali-kali saya ke Makkah, berkali-kali pula saya istighfar. Karena saya awalnya mengapresiasi pelebaran, pembangunan perluasan masjid. Pada perkembangannya saya terkejut karena alasan memperlebar masjid ternyata mendatangkan kompleks perdagangan, mal-mal besar, bersanding dengan masjid (Masjid Al-Haram) sehingga kehilangan sakralitas.

Jujur saja, saya tidak pernah khusyuk di depan Kabah yang di hadapannya ada Menara Jam Raksasa. Saya selalu di belakangnya. Problemnya bila di belakang kita tidak di depan multazam.

Arab Saudi harus berpikir ulang dan mengubah cara pandang: jamaah haji dan umrah datang ke sana buat beribadah, berziarah ke tempat suci sejarah para nabi.

Kalau kita melihat ciri-ciri kiamat, Masjid Al-Haram ternodai oleh kemajuannya. Masjid Al-Haram terkotori oleh peradaban modern. Arab Saudi juga harus mengembalikan situs sejarah Islam lenyap karena pembangunan Masjid Al-Haram.

Saya tahu persis bagaimana rumah Nabi Muhammad dan Khadijah dijadikan WC umum. Rumahnya Fathimah dengan Ali bin Abi Thalib hilang sama sekali.

Ketika kami, para ahlu sunnah wal jamaah, mempertahankan makam auliya, petilasan-petilasan para wali, bukan untuk menyembah mereka. Kami tetap menyembah Allah. Pelestarian kubur dan petilasan mereka sebagai pengingat dan penghormatan karena kami dikenalkan dengan Allah dan Rasulullah atas jasa-jasa mereka.

Apalagi di Makkah, banyak peninggalan para sahabat nabi. Kalau peninggalan itu hilang, anak cucu kita akan tanya, "Benar nih Islam lahir di Makkah, mana buktinya?"

Apa mungkin situs-situs bersejarah di Makkah telah dihilangkan Arab Saudi bisa dikembalikan lagi?

Saya yakin mungkin karena salah satu keistimewaan dari kita selalau ada yang menuturkan di mana lokasinya. Bagaimana kemungkinan itu bisa terwujud adalah mendesak Arab saudi merevitalisasi sejarah dan menjadikan sejarah lebih penting dibanding mal.

Bagaimana mungkin mereka tidak menghormati tempat kelahiran nabi sementara istana-istana raja mereka begitu mewah dan dipuja. Bagaimana mungkin Masjid Al-Haram kecil ketimbang mal-mal dan hotel berukuran besar.

Kalau itu tidak dilakukan, akan muncul tuntutan pengelolaan Makkah dan Madinah dilakukan bersama-sama oleh dunia Islam.

Tapi kenapa negara-negara Islam selama ini bungkam?

Itu menjadi pertanyaan kenapa mereka bungkam.

Kapan desakan itu agar Arab Saudi menghentikan perusakan situs-situs sejarah Islam di Makkah dan Madinah?

Seharusnya lebih cepat karena ini masa di mana Islam harus menjadi alternatif, lokomotif untuk perubahan dunia. Saat inilah peradaban menuntut Islam memimpin dunia.

Sebagai tekanan, apakah perlu memboikot haji?

Saya nggak setuju. Apalagi agak sulit memberi pemahaman kepada orang-orang di Indonesia sudah antre 20 tahun buat berhaji disuruh boikot (tertawa).

Apakah pemerintah pernah mendesak hal itu?

Kami sudah membahas di Komisi Agama Dewan Perwakilan Rakyat untuk mendesak Arab Saudi memperbaiki pelayanan terhadap jamaah sekaligus merevitalisasi sejarah. Jangan sampai dengan alasan perluasan masjid, situs-situs sejarah Islam dihancurkan dan di tempat itu pula mal dan hotel berdiri.

Kapitalisme global sudah memasuki Makkah dan Madinah.

Berarti mal dan hotel di sekeliling Masjid Al-Haram harus dihancurkan?

Itu tidak sulit. Kalau mereka bisa bangun museum bagus, kenapa untuk memperbaiki rumah kelahiran nabi saja dibiarkan kumuh, tidak diperbaiki.

Menjadi pelayanan Dua Kota Suci bukan berarti memanipulasi pelayanan tapi mereka memanfaatkan itu untuk mengeruk keuntungan dengan melobi kapital global.

Berarti Arab Saudi sudah merusak Makkah?

Arab Saudi sudah memberikan yang terbaik untuk sebuah masjid modern. Tapi Arab saudi harus menggusur mal, hotel telah merusak kesakralan. Bikin saja mal jauh dari Masjid Al-Haram.

Arab Saudi harus membuktikan kata-katanya melakukan puritanisasi Islam. Mulai saja dari diri sendiri dulu.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Menteri agama minta jamaah Indonesia patuhi larangan berziarah di Makkah

Larangan berlaku tanpa batas waktu sejak 19 April. Siapa saja melanggar dikenai denda lima ribu riyal.

Menachem Klein, professor in political sciences at Bar Ilan University, Israel, poses with the background of the image of  Al-Aqsa in Borobudur Hotel, Jakarta, December 15, 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Prince Muhammad bin Salman is a good partner for Netanyahu on the issue of Iran and Palestine

"But I think Netanyahu policies on the two issues are bad for Israel."

Kabah di Kota Makkah, Arab Saudi. (Arab News)

Pejabat MUI sebut larangan berziarah di Makkah pelecehan terhadap umat Islam

"Alasan utama pemurnian akidah terkesan sangat subyektif itu secara tidak langsung merendahkan dan mereduksi kualitas peziarah."

Penyerang asal mesir Muhammad Salah semasa berkostum As Roma. Dia kini bermain untuk Liverpool FC. (Facebook/Muhammad Salah)

Hadiah tanah bagi Salah di Makkah

"Hadiah ini sebagai penghargaan terhadap ketinggian nilai dan etika bintang sepak bola Mesir itu," kata Fahad.





comments powered by Disqus