wawancara

Syaiful Iman (1)

Polisi menahan tanpa surat perintah penangkapan

Syaiful Iman dan dua temannya tidak diizinkan salat Jumat dan mandi selama dua pekan dalam kurungan polisi Turki.

14 September 2016 21:41

Pembersihan massal dilakoni rezim Presiden Recep Tayyip Erdogan di Turki sehabis kudeta gagal 15 Juli lalu, memakan banyak korban. Setidaknya 70 ribu pegawai negeri, terutama kaum guru, diberhentikan dan 35 ribu orang lainnya ditahan karena dicurigai sebagai pengikut Fethullah Gulen.

Erdogan memang menuding Gulen, ulama Turki sejak 1999 menetap di Negara Bagian Pennsylvania, Amerika Serikat, sebagai otak kudeta gagal. Ankara sudah mengajukan permintaan resmi agar Washington menangkap lelaki 78 tahun itu.

Empat mahasiswa Indonesia di Turki juga kecipratan sial. Tiga orang sudah dibebaskan, sedangkan Handika Lintang Saputra sejak 3 Juni lalu masih ditahan di Gaziantep, kota di selatan Turki berbatasan dengan Suriah.

Syaiful Iman termasuk menjadi korban penangkapan lantaran tinggal di sebuah rumah dikelola yayasan terkait gerakan Gulen di Ibu Kota Ankara. Syaiful adalah mahasiswa semester ketujuh di Middle East Technical University di Ankara.

Kerja keras KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Ankara sejak mengetahui kabar penangkapan Syaiful membuahkan hasil. Dia dibebaskan pada 8 September malam setelah ditahan sejak 26 Agustus. Dia bareng 40 mahasiswa Indonesia lainnya kini ditampung sementara di Wisma KBRI di Ankara, Turki.  

Berikut penjelasan Syaiful Iman kepada Faisal Assegaf dari Albalad.co melalui telepon WhatsApp hari ini.   

Bagaimana ceritanya Anda bisa ditangkap?

Pada Jumat, 26 Agustus, sekitar jam 9.30 ada enam polisi datang ke rumah. Ketika itu saya masih tidur. Entah bagaimana mereka bisa masuk, sepertinya teman saya membukakan pintu. Waktu itu yang ada di rumah adalah saya, satu teman dari Turkmenistan, dan seorang lagi dari Afghanistan.

Ketika para polisi itu datang, langsung menggeledah rumah, mencari bukti-bukti, seperti buku karya Fethullah Gulen, CD Fethullah Gulen. Kami juga diberi pertanyaan: berapa lama tinggal di sini dan sama siapa saja.

Saya bilang kami di sini masing-masing ada satu orang Indonesia, Turkmenistan, Afghanistan, dan serta dua orang Turki waktu itu lagi tidak ada di rumah. Dari kamar saya, mereka tidak mendapatkan apa-apa. Kemudian kami bertiga dibawa ke kantor polisi.

Apakah ketika menggeledah dan menangkap, polisi memperlihatkan surat perintah penangkapan?

Kami langsung dibawa ke kantor polisi tanpa mereka memperlihatkan surat perintah penangkapan.

Berapa lama polisi mulai menggeledah hingga Anda dan dua teman Anda ditangkap?

Mulai pukul 9.30 hingga sebelum waktu salat Jumat, sekitar tiga jam.

Dari kamar Anda, apa yang dibawa oleh polisi?

Dari kamar saya tidak ada bukti yang mereka cari.

Ketika Anda dan dua teman Anda dibekuk, apakah dalam keadaan diborgol?

Nggak.

Atau ditutup matanya?

Nggak juga.

Berapa jarak dari tempat tinggal Anda dengan kantor polisi tempat Anda ditahan?

Sekitar lima kilometer.

Apakah selama diinterogasi di kantor polisi, Anda mendapat siksaan?

Nggak ada, cuma pertanyaan-pertanyaan menyangkut rumah, siapa tinggal di rumah itu, berapa lama sudah tinggal di sana, berapa bayar sewa rumah itu, siapa menyewa rumah itu, dan sebagainya.

Apakah ada paksaan agar Anda mengaku sebagai pengikut Gulen?

Beberapa polisi meminta saya mengakui saja sebagai pengikut Gulen.

Tapi apa ada paksaan atau intimidasi?

Tidak paksaan atau kekerasan fisik selama interogasi.

Apakah selama ditahan, makan dan minum Anda terjamin?

(Tertawa) gimana ya...Pada hari pertama kami digabung dengan beberapa orang. Entah kenapa di hari kedua, kami bertiga ditempatkan di sel terpisah.

Kalau soal makanan (tertawa), mereka memberikan roti dan air minum.

Jadi sehari dapat tiga kali makan?

Ya, tiga kali sehari.

Makanan utama atau cuma roti saja?

Hanya roti dan air minum saja, nggak ada nasi. Tapi ada beberapa sipir baik, ketika bertugas menjaga kami, menawarkan untuk membeli makanan berat di luar, tentu menggunakan uang kami.

Berapa lama Anda ditahan?

Dari 26 Agustus sampai 8 September.

Bagaimana ukuran sel Anda huni bareng dua teman Anda?

Ukurannya sekitar 3x5 meter persegi.

Apakah ada ranjang atau tidur di lantai?

Ada seperti dipan dua, dilengkapi jendela berkisi untuk pencahayaan dari luar. Nggak ada toilet. Kalau mau buang hajat atau wudu saya harus minta izin keluar.

Kalau mau mandi?

Selama ditahan kami tidak mandi.

Kalau mau wudu buat salat?

Boleh tapi ada beberapa sipir mencurigai dan tidak membolehkan kami wudu. Kalau kami melakukan salat dalam sel, mereka suka meledek.

Jadi hanya boleh keluar sel kalau ingin buang hajat atau wudu?

Iya.

Jadi selama ditahan, Anda tidak dibolehkan salat Jumat?

Nggak dikasih izin. Jadi selama ditahan saya dua kali nggak salat Jumat.

Bagaimana Anda akhirnya dibebaskan?

Setelah beberapa hari pihak KBRI datang dan mendapat izin untuk menemui saya. Pada pertemuan selanjutnya pihak KBRI menemui saya lagi. Mereka bilang sudah menunjuk pengacara buat saya dan membawa pakaian ganti buat saya.

Saya kemudian dibebaskan karena tidak ada sangkut pautnya dengan gerakan dianggap musuh oleh pemerintah Turki saat ini.   

Marzuq Mashaan al-Utaibi has just launched a revolution against Al Saud regime in Saudi Arabia by establishing the national Mobilization Movement. (Albalad.co)

We will remove Al Saud regime

"We are considering few months to a year to achieve this goal," said Marzuq.

Tiina Jauhiainen and Sheikha Latifa, the daughter of Dubai Emir Sheikh Muhammad bin Rashid al-Maktoum, were in her escape from UAE on February 24th, 2018. (Tiina Jauhiainen for Albalad.co)

Sheikha Latifa tried to escape because she wants to have a normal life

Tiina was detained in a secret prison for two weeks because she helped the daughter of Dubai emir to escape from her country.

Elie Trabelsi, a Tunisian Jews politician. (Elie Trabelsi for Albalad.co)

I protect the Jewish community because it is a minority

"The link of the Tunisian Jews with Tunisia is very strong. Tunisia is known for its tolerance, Jews and Muslims have always coexisted together," said Elie Trabelsi.

Adolf bin Prince Faisal bin Turki bin Abdullah al-Saud. (Albalad.co)

I want to get my status as the son of a Saudi prince

Adolf will go to the European Highest Court in Brussels to prove he is the son of Prince Faisal bin Turki from Saudi Arabia.





comments powered by Disqus