wawancara

Sebagai minoritas, saya beruntung lahir dan tinggal di Indonesia

"Saya ingin meninggal waktu saya ibadah. Itu sebuah kehormatan. daripada saya meninggal di hotel bintang lima, meninggal waktu mandi uap, meninggal di klub malam," kata Dato Tahir.

10 November 2016 17:23

Kegiatan kemanusiaan dan kedermawanan seolah lekat dengan Dato Tahir. Bos Mayapada Group ini getol berderma membantu orang-orang kesusahan. Mulai dari korban banjir, gempa, dan sebagainya. Di dalam dan luar negeri.

Tingginya rasa kemanusiaan dimiliki lelaki 64 tahun inilah membikin dia sanggup merogoh kocek jutaan dolar. Hingga akhirnya orang terkaya nomor 12 di Indonesia versi majalah Forbes 2016 ini pun menjadi konglomerat Indonesia pertama membantu dan mengunjungi kamp pengungsi Suriah di Yordania.

Dato Tahir berprinsip menjadi dermawan tidak akan membuat orang jatuh miskin. Dia pun menyadari sungguh beruntung dilahirkan di Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar sejagat. Dia tahu di Timur Tengah, didominasi masyarakat muslim, konflik kerap bergolak. Minoritas selalu menjadi korban.

Penduduk muslim Indonesia dikenal toleran dan moderat meski berbeda agama, suku, dan budaya. "Ada perasaan sangat mendalam. Saya beruntung tinggal di Indonesia, saya lahir di Indonesia, sebagai orang Indonesia," kata pria berharta US$ 2,4 miliar itu, saat ditemui di kantornya kemarin.  

"Saya imbau kepada para minoritas, memang kita ditakdirkan menjadi minoritas, apapun agama dan sukunya. Tapi syukur-syukur negara ini memberikan kita semua."

Berikut penjelasan Dato Tahir dalam wawancara khusus dengan Faisal Assegaf dari Albalad.co.    

Apa hikmah dari beragam kegiatan Anda membantu para pengungsi di dalam negeri dan luar negeri?

Saya ke Sinabung lihat pengungsi, saya ke Manado gempa, saya ke Padang gempa, saya ke Yogya gempa, saya ke Kendal, melihat pengungsi. Pelajaran saya peroleh dari semua itu adalah saya diingatkan, saya harus tahu diri.

Karena kita ini kelimpahan uang. Kita tinggal di wilayah elite, masuk kantor elite, mondar-mandir. Gampang kita hilang dalam pusaran keuangan, kemewahan, kekuasaan. Kalau kita nggak diingetin dengan membantu para pengungsi, kita bisa lupa.

Saya ini bukan orang hebat. Saya cuma merasa saya lebih beruntung. Perasaan saya paling dalam itu saya bersyukur saya lahir di Indonesia. Kalau lahir di Tiongkok, saya mungkin kurang bersyukur, kurang beruntung.

Kenapa?

Iya dong. Coba Anda pikir, semuanya baik. Kalau Anda lihat di Tiongkok ada tragedi Tiananmen pada 1986, pada 1950-an, mengalami kelaparan.

Di Indonesia serba enaklah. Bangsa ini kan bangsa baik, ramah. Jadi saya bersyukur. Ada perasaan sangat mendalam, "Saya beruntung tinggal di Indonesia, saya lahir di Indonesia, sebagai orang Indonesia."

Wajarlah, menurut saya, saya imbau kepada para minoritas, memang kita ditakdirkan menjadi minoritas, apapun agama dan sukunya. Tapi syukur-syukur negara ini memberikan kita semua. Kalau nggak ada Indonesia, nggak ada Tahir. Dari mana Tahir muncul kalau nggak ada Indonesia.

Jadi menurut saya, kalau saya bekerja dengan baik, ada sedikit sosial di sana-sini, memang pantas dan harus. Suatu konsekuensi dari sebuah logika: ambil dari satu tempat, kembalikanlah ke tempat itu.

Nggak ada sesuatu perlu disombongkan, ditonjolkan, atau dipamerkan.

Semua pasti kaget dengan kunjungan Anda ke kamp pengungsi Suriah sekaligus memberikan bantuan. Adakah pujian dari tokoh dunia?

Dengan saya diangkat sebagai Eminent Advocate UNHCR, merupakan orang ketiga di dunia, menurut saya, ini sebuah kehormatan. Dari reputasi internasional, mungkin sudah susah orang Indonesia menandingi saya, apalagi dari kalangan pengusaha.

Tapi saya selalu menekankan sebuah kehormatan atau gelar selalu didampingi oleh suatu tanggung jawab. Anda tidak boleh mau gelarnya tapi tidak mau tanggung jawabnya.

Waktu saya mau berangkat ke Yordania, saya bilang sama anak saya, "Entar kalu gue diculik di sana, entar ditebus (tertawa)." Guyon saja saya sama anak.

Tapi dasar kita dari iman, keluar dari niat baik, kalaupun (penculikan) itu terjadi, itu memang Tuhan yang mau. Tapi lebih baik saya meninggal dalam kebaikan daripada saya meninggal dalam kejahatan.

Iman itulah mendasarkan saya. Daripada saya meninggal di klub malam, kena serangan jantung di klub malam. Atau saya mandi uap kena serangan jantung. Kan, lebih malu saya.

Wah, Pak Tahir mati lagi mandi uap di Mangga Besar (tertawa). Kan, rusak nama saya. Anak saya menanggung malu, iya toh (tertawa).

Kedua, jangan orang meninggal dalam kekayaan.

Maksudnya?

Orang kasihan kalau dia meninggal dalam keadaan kaya. Dia itu begitu miskinnya, dia tinggal uang saja. yang lain nggak ada.

Saya maunya meninggal dalam suatu kehormatan, keinginan saya itu. Karena saya orang Kristen, saya ingin meninggal waktu saya ibadah. Itu sebuah kehormatan. daripada saya meninggal di hotel bintang lima, saya meninggal waktu mandi uap, meninggal di klub malam. Itu lebih jelek menurut saya.

Apakah Anda ingin masuk ke Suriah karena penasaran ingin tahu lokasi perang?

Saya kan bawa bola tendang. Mereka sekolah libur. Saya datang mereka menunggu bola. Saya nggak menduga. Bolanya nggak cukup. Ada anak perempuan menangis dan bilang sama saya, "Kenapa kok orang itu dapat, saya nggak dapat.

Kita seperti orang nggak berdaya. Suatu sukacita begitu dalam kalau Anda dibutuhkan orang. Saya gendong anak pengungsi, itu suatu sukacita. Kalau bisa saya ciumi satu-satu. Karena kehadiran saya ada maknanya. Itu sukacita luar biasa.

Anda merasa dibutuhkan sebagai seorang manusia dan Anda bisa berbuat sesuatu. Sekali ini, kalau saya datang bulan tiga (Maret 2017), persiapan saya mau lebih mateng. Saya akan membawa lebih banyak logistik.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir saat berbincang dengan keluarga pengungsi asal Suriah di kamp Azraq, Yordania, 3 April 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Tiru Dato Tahir, para taipan Indonesia diajak bantu pengungsi Palestina

Dato Tahir juga menjadi konglomerat Indonesia pertama membantu sekaligus mengunjungi kamp pengungsi Suriah, dilakoni sejak 2016.

Dato Tahir berpose dengan Duta Besar Indonesia untuk Yordania dan Palestina Andy Rachmianto, Direktur Perencanaan UNRWA Abdi Aynte, dan Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Palestina di Jakarta Muammar Milhim setelah penyerahan sumbangan sebesar Rp 20 miliar bagi pengungsi Palestina, 15 Oktober 2018. (Albalad.co)

Dato Tahir sumbang Rp 20 miliar buat pengungsi Palestina

Dato Tahir menjadi konglomerat Indonesia pertama membantu sekaligus mengunjungi kamp pengungsi Suriah, dilakoni sejak 2016. Sejauh ini belum ada orang terkaya di Indonesia mengikuti jejaknya.

Jumpa Mustafa di Bekaa

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir mengunjungi kamp pengungsi Suriah di Libanon untuk pertama kali. Dia sudah ttiga kali menengok pengungsi Suriah di Yordania.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir bersama kelima cucu angkatnya di kamp pengungsi Suriah di Azrq, Yordania, 3 April 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

UNHCR berhasil temukan lima cucu angkat Dato Tahir di Suriah

Mereka sudah kembali ke kampung halaman mereka di Daraa.





comments powered by Disqus