wawancara

Jangan sampai Indonesia jadi arena pertempuran politik Saudi dan Iran

Menurut Asad, ideologi Wahabi melahirkan terorisme.

26 November 2016 14:09

Sepuluh tahun bertugas di Timur Tengah sebagai agen BIN (Badan Intelijen Negara) pada 1980-an, sudah cukup membikin Asad Said Ali memahami para aktor politik di kawasan kerap bergolak itu.

Mantan wakil kepala BIN ini mengaku pernah ditugaskan di beragam negara, termasuk Arab Saudi dan Suriah. Karena itulah, dia mengaku mengerti isi perut konflik rumit dan berkepanjangan kini membekap sebagian negara Arab. Termasuk ISIS dan Al-Qaidah, dua kelompok teroris begitu menakutkan dunia saat ini.

Berikut penjelasan Asad Said Ali soal ISIS dan Al-Qaidah, serta pengaruhnya terhadap Indonesia, saat ditemui Faisal Assegaf dari Albalad.co Senin lalu di kantornya di bilangan Tebet, Jakarta Selatan.  

ISIS tengah terdesak di Suriah, Irak, dan Libya. Bagaimana Anda melihat situasi ini?

Jelas ini menjadi pekerjaan rumah baru karena mereka yang kembali sudah mendapat pengalaman perang tapi memang miskin pengalaman ideologi. ISIS tidak terindoktrinasi secara terarah dan merupakan campuran dari kelompok Saddam dan eks Al-Qaidah.

ISIS lebih garang dan tidak tertata, lebih radikal sampai Syiah pun dianggap sasaran mereka. Ini persoalan baru.

Mereka tidak dalam satu kamp, terpecah-pecah. Sedangkan dulu di bawah Jamaah islamiyah semua, yakni di bawah Abdullah Sungkat Abu Bakar Baasyir, dan Zulkarnain.

Sekarang ada Bahrun Naim, Bahrumsyah, dan Abu Jandal (dikabarkan telah tewas di Mosul). Tidak bersatu dan saling berantem satu sama lain.

Mungkin sebagai suatu gerakan, ISIS di Indonesia tidak menjadi satu kekuatan tapi menjadi liar, saling bergerak masing-masing.

ISIS dulunya ingin menjadikan Filipina sebagai pusat pelatihan di Asia Tenggara tapi sampai sekarang belum ada yang dfiakui katibahnya. Masih dipegang oleh orang dari Asia Tengah. Konsolidasi ISIS di Indonesia belum satu, mungkin karena Aman Abdurrahman masih dalam penjara.

Jadi ISIS di Indonesia masih dalam tahap konsolidasi.

Dengan terdesak di Suriah, Irak, dan Libya, apa berarti jihadis ISIS bakal pulang dan menjadi jihadis lokal di negara masing-masing?

Ya, akan begitu. Al-Qaidah dulu juga begitu. Ketika pusatnya hilang, mereka langsung menyebar. Itu bukan berarti terus lemah tapi mereka bergerak dengan sel dan modul masing-masing.

Bagaimana Anda melihat keseriusan masyarakat internasional dalam memerangi ISIS dan Al-Qaidah?

Perubahan Jabhat an-Nusrah menjadi Jabhat Fatih asy-Syam sekadar taktik supaya tidak diakui sebagai teroris. Arab Saudi juga membiayai. Makanya Saudi ingin mengubah itu menjadi satu gerakan perlawanan terhadap Basyar (rezim Presiden Suriah Basyar al-Assad) dan Amerika kelihatannya mendukung.

Bagi saya, itu kesalahan. Kalau ingin menghancurkan Jabhat Nusrah atau ISIS, rezim harus dipakai. Tapi rezim Basyar seolah digambarkan sebagai rexzim Syiah. Saya lima tahun di sana nggak kelihatan Syiah kok. Sekte Alawi kan juga ada di Turki.

Dianggap Syiah oleh ulama Syiah asal Libanon Musa Sadr meninggal di Libya. Dia menganggap Alawi Syiah padahal mereka nggak mengaku Syiah. Basisnya Alawi di Qardaha, sebelah timur Aleppo, Suriah.

Kita nggak tahu ke depannya. Yang jelas, hilangnya Al-Qaidah dan ISIS tidak menghentikan konflik. Masih ada Kurdi di Turki. Barang ini bisa dipakai siapa saja.

Jika pemimpinnya, Abu Bakar al-Baghdadi, tewas, apakah ISIS bakal hilang atau berganti nama?

Akan tetap ada karena daya pikatnya membeaskan Al-Quds. Orang kita tertarik karena tujuannya menegakkan keadilan atas ketidakadilan Barat.

Sejumlah laporan menyebutkan ISIS dan Al-Qaidah didanai oleh negara-negara Arab, seperti Saudi dan Qatar. Apakah kesimpulan ini benar?

Sangat benar. Terbentuknya Al-Qaidah memang konspirasi Amerika, Pakistan, dan negara-negara Arab untuk melawan Uni Soviet di Afghanistan.

Kemudian akhirnya Saudi tidak membantu Al-Qaidah karena Usamah Bin Ladin melawan penguasa Saudi. Saudi lalu membantu Taliban karena mujahidin dibantu saat perang di Afghanistan malah mengakomodir kepentingan Iran.                

Sejak meletupnya perang di Suriah, tiba-tiba muncul konflik Sunni-Syiah di Indonesia. Apakah Saudi dan Iran juga berperan dalam hal ini?

Jelas lah. Adanya warga Indonesia bergabung dengan Jabhat Nusrah dan ISIS untuk memerangi rezim Basyar atau bergabung dengan Hizbullah buat membela Basyar telah mempertajam konflik Sunni-Syiah di Indonesia.

Kalau Saudi dan Iran tidak rekonsiliasi dampaknya juga akan muncul konflik Sunni dan Syiah di Indonesia.

Pengaruh Saudi dan Iran di Indonesia masuk lewat mana?

Iran memiliki pusat kebudayaan Iran dan Saudi mempunyai jaringan kes lulusan Saudi.

Banyak penelitian menemukan ideologi Wahabi melahirkan terorisme. Apakah itu benar?

Sangat benar. Waktu melawan Uni Soviet di Afghanistan ada dua proyek. Pertama, supaya ideologinya kuat, ditanamkanlah Wahabisme. Dengan mengambil elemen tertentu dari ajaran Ibnu Taimiyyah. Maka lahirlah doktrin wajib membunuh orang kafir. Proyek wahabisasi ini besar sekali plus latihan militer.

Kedua, Pakistan. Negara ini takut Provinsi Baluchistan kafir karena berbatasan dengan India, karena itu diberikanlah proyek wahabisasi di sana.

Sebenarnya Wahabi itu antikekerasan di Saudi. Karena Wahabi plus kerajaan, maka hukumnya haram melawan raja. Karena itu kekerasan juga haram. Mengkafirkan orang juga haram.

Tapi kalau hanya Wahabi saja maka lahirlah salafi sururi atau salafi politik. Karena kelompok salafi mengkritik raja dianggapnya keluar dari salaf, dianggapnya salafi politik. Akhirnya menjadi wahabi tidak dikontrol oleh kerajaan.

Wahabi itu antiperubahan, mau mempertahankan Quran dan hadis, serta nilai-nilai lama, serta lembaga-lembaga agama lama.

Wahabi di Saudi juga tidak mengakar. Paling nggak sampai setengannya yang sekarang penganut Wahabi di Saudi.

Apa target Al-Qaidah dan ISIS di Indonesia?

Doktrin mereka adalah kalau nggak bisa mendekati musuh dekat, Israel, berarti berjuang menghadapi musuh jauh. Bagi Al-Qaidah dan ISIS, melemahkan sebuah rezim dianggap kafir. Mereka menganggap seluruh dunia layak diperangi kecuali yang sudah berikrar.

Ada dua persoalan di Indonesia, yakni harus menghilangkan yang radikal. Kedua, bagaimana Wahabisme yang sebenarnya antikekerasan tapi secara ideologi dekat dengan kelompok radikal.

Jadi ada salafi politik, ada salafi tarbiyah. Salafi tarbiyah nggak masalah, tapi kalau salafi sururi atau politik lain lagi. Ia melawan pemerintah Saudi dan aliran salafi lainnya. Menurut saya itu satu keuntungan karena mereka bertempur satu sama lain.

Jadi tergantung pada pendekatan kita kepada Saudi dan Iran agar tidak menjadikan Indonesia sebagai tempat pergumulan politik mereka. Persoalannya, kalau kita dekat ke Saudi, Iran curiga. begitu pula, bila kita dekat dengan Iran, Saudi marah.   

Marzuq Mashaan al-Utaibi has just launched a revolution against Al Saud regime in Saudi Arabia by establishing the national Mobilization Movement. (Albalad.co)

We will remove Al Saud regime

"We are considering few months to a year to achieve this goal," said Marzuq.

Tiina Jauhiainen and Sheikha Latifa, the daughter of Dubai Emir Sheikh Muhammad bin Rashid al-Maktoum, were in her escape from UAE on February 24th, 2018. (Tiina Jauhiainen for Albalad.co)

Sheikha Latifa tried to escape because she wants to have a normal life

Tiina was detained in a secret prison for two weeks because she helped the daughter of Dubai emir to escape from her country.

Elie Trabelsi, a Tunisian Jews politician. (Elie Trabelsi for Albalad.co)

I protect the Jewish community because it is a minority

"The link of the Tunisian Jews with Tunisia is very strong. Tunisia is known for its tolerance, Jews and Muslims have always coexisted together," said Elie Trabelsi.

Adolf bin Prince Faisal bin Turki bin Abdullah al-Saud. (Albalad.co)

I want to get my status as the son of a Saudi prince

Adolf will go to the European Highest Court in Brussels to prove he is the son of Prince Faisal bin Turki from Saudi Arabia.





comments powered by Disqus