wawancara

Saya ingin mengenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada masyarakat Israel

Profesor Ronit Ricci adalah satu-satunya pengajar bahasa Indonesia di Israel.

05 Agustus 2019 10:57

Faisal, jangan lupa belikan lima Indomie rasa rendang, anak-anak saya pesan karena mereka suka rasa itu," kata Profesor Ronit Ricci, satu-satunya pengajar bahasa Indonesia di Israel, sebelum saya meluncur ke sebuah hotel tenpat dia menginap di Jakarta, Kamis pekan lalu.

Ronit sudah sejak 2013 mengajar bahasa Indonesia di kampusnya, Departemen Studi Asia Universitas Ibrani, Yerusalem. Dia bercerita mulai belajar bahasa Indonesia pada 1998 ketika kuliah di Universitas Cornell dan dilanjutkan di Universitas Michigan pada. Kedua perguruan tinggi ini berada di Amerika Serikat.

Sejak saat itu, dia terus memperlancarkan kemampuan bahasa Indonesianya dengan banyak membaca literatur berbahasa Indonesia dan hampir setahun sekali datang ke Indonesia.

Ketertarikan ibu tiga anak ini berawal saat dia kuliah sarjana dan magister di Israel. Ketika itu dia berfokus mengenai sejarah, sastra, dan bahasa India. Kala mau lulus program magister, dosennya bercerita sedikit tentang hubungan sejarah dan kebudayaan antara India dan Indonesia. "Saya waktu itu belum tahu apa-apa tentang Indonesia. Waktu kecil saya jarang mendengar atau membaca sesuatu soal Indonesia," ujar Ronit.

Sang dosen mendorong dia untuk belajar mengenai Indonesia. Ronit akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan ke Indonesia bareng adiknya selama sebulan pada 1995. Dia melancong ke Yogyakarta, Solo, Jakarta, dan Bali. Tentu saja dia datang bukan menggunakan paspor Israel tapi dengan paspor Amerika Serikat.

Karena ingin mendalami mengenai Indonesia, dia tinggal setahun di Yogyakarta pada 2003 untuk melakukan riset tentang islamisasi Nusantara melalui sastra buat program doktornya.

Sambil mengajarkan bahasa, Ronit juga mengenalkan sejarah dan budaya Indonesia kepada para mahasiswanya. Saban akhir tahun, dia mengajak semua mahasiswanya menyantap makanan Indonesia di rumahnya. Dia mengaku bisa memasak beberapa menu Indonesia, seperti nasi kuning atau tahu dan tempe goreng.

Ronit juga tidak lupa mengenalkan bahasa, sejarah, dan budaya Indonesia kepada keluarganya. Ketika tinggal di Yogya, anak-anaknya lancar berbahasa Indonesia karena masuk sekolah taman kanak-kanak di sana. Kalau ada waktu senggang, Ronit mencari menu masakan Indonesia lewat Internet untuk dipraktekkan di rumah dan hasilnya dinikmati bareng keluarga. Sebagai vegetarian, Ronit menyukai masakan Indonesia berupa gado-gado dan gudeg.

Berikut penuturan Profesor Ronit Ricci kepada Faisal Assegaf dari Albalad.co.

Sejak kapan Anda mengajarkan bahasa Indonesia di Israel?

Saya mulai mengajar sejak 2013.

Anda mengajar di kampus saja atau di luar juga?

Di kampus saja, di Universitas Ibrani di Yerusalem.

Apa yang membuat Anda ingin mengajarkan bahasa Indonesia di Israel?

Itu sudah bertahun-tahun bidang saya. Saya meneliti sastra dan sejarah. Penelitian untuk S-3 saya adalah tentang islamisasi Nusantara lewat perspektif sastra. Sudah bertahun-tahun saya membaca sastra, terutama berupa naskah dalam bahasa Melayu dan Jawa.

Saya tertarik sekali dengan kebudayaan Jawa. Sejak mendapat S3, saya mulai mencari pekerjaan. Awalnya, saya mengajar di Australia. Lalu waktu ada kesempatan untuk pulang ke Israel, saya senang sekali. Karena saya sudah bertahun-tahun tinggal di luar negeri meski saya berasal dari situ.

Waktu ada kesempatan di universitas itu (Universitas Ibrani, Yerusalem), saya senang sekali dan ingin pulang. Saya ingin memperkenalkan kepada mahasiswa Israel tentang Indonesia. Menurut saya, bahasa merupakan pintu masuk ke budaya, sejarah politik dan semuanya tentang Indonesia.

Saya merasa tanpa mengerti bahasa tempat yang diteliti, bahasa dipakai sehari-hari oleh masyarakat setempat, susah sekali mengerti negara atau masyaraat itu.

Apa tanggapan Universitas Ibrani ketika mengetahui Anda ingin membuka kelas bahasa Indonesia?

Mereka sudah tahu itu karena ini memang posisi diiklankan. Waktu mengajukan lamaran untuk posisi di Departemen Studi Asia, saya mengatakan ingin membangun kelas mengenai bahasa Indonesia karena waktu itu di Israel sama sekali belum ada kuliah mengenai bahasa, sejarah musik, dan sastra Indonesia.

Jadi sampai sekarang di Israel baru di Universitas Ibrani terdapat kuliah mengenai Indonesia?

Betul.

Sejak Anda membuka kuliah bahasa Indonesia di Israel, sudah berapa murid Anda?

Sekitar 50 orang.

Apa tanggapan mereka?

Mereka sebenarnya sangat tertarik. Saya kira bagi kebanyakan masyarakat Israel, Indonesia adalah negara jauh, bukan hanya dalam artian geografis dan karena tidak ada hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel tapi juga negara jauh dalam artian lain. Mereka tidak tahu apa-apa tentang Indonesia, sejarah, keberagamannya, politiknya. Jadi ini sesuatu yang sangat baru buat mereka.

Pada tingkat awal orang memang bisa cukup cepat omong walau sederhana sekali. Tapi mereka merasa sangat senang karena sesudah beberapa bulan mereka sudah bisa omong sedikit. Selain itu yang menarik bagi mereka dan saya adalah ada banyak kata dari bahasa Arab masuk ke dalam bahasa Indonesia.

Kalau mereka sudah bisa bahasa Arab. lebih gampang lagi. Tapi walau belum bisa berbahasa Arab, kalau tahu bahasa Ibrani, itu sudah banyak membantu dalam belajar bahasa Indonesia.

Misalkan nama-nama hari, kecuali Jumat dan Minggu, semuanya hampir sama dengan nama hari dalam bahasa Ibrani. Syenin (Senin), Ravii (Rabu), Khamisi (Kamis). Jadi mereka merasa, "Wah saya belajar bahasa eksotis, mengerti cukup banyak kata tanpa kamus."

Selain mengajarkan bahasa, apakah Anda juga mengenalkan budaya Indonesia kepada mahasiswa Anda?

Saya sangat mencoba memperkenalkan kebudayaan Indonesia. Saya memang bukan orang linguistik tapi bagi saya bahasa itu semacam alat untuk masuk ke kebudayaan lain dan untuk mencoba mengerti masyarakat berbeda. Karena itu, saya mengajar dengan banyak contoh, seperti musik, sastra, dan makanan.

Tiap akhir tahun saya mengundang semua mahasiswa bahasa Indonesia ke rumah saya untuk makan bersama. Saya tidak begitu pintar masak tapi saya memasak beberapa makanan Indonesia, misalnya nasi kuning atau gad-gado. Saya vegetarian jadi saya tidak memasak rendang.

Untuk mahasiswa sudah dua tahun belajar bahasa Indonesia, saya tugaskan bikin presentasi pendek saja, 5-10 menit, yang ada hubungannya dengan Indonesia.

Selain itu, di Yerusalem ada komunitas gamelan. Mereka adalah pemain gamelan sudah bertahun-tahun dan tinggal di Yerusalem. Sejak tahun lalu, mahasiswa saya bisa memilih gamelan sebagai mata kuliah. Ini merupakan salah satu cara untuk belajar kebudayaan Jawa.

Saya juga mengajar mata kuliah berjudul Introduction to Indonesia, mulai zaman kolonial sampai kini.

Apakah kiprah Anda mengajarkan bahasa Indonesia sudah mulai mendapat perhatian dari pemerintah Israel?

Sama sekali tidak. Saya tidak pernah dihubungi oleh pemerintah dan tidak pernah diminta memberikan nasihat. Saya juga tidak menjadi perwakilan pemerintah Israel, mungkin malah sebaliknya. Saya sebagai orang akademis, mencoba untuk membangun jembatan antara Israel dan Indonesia.

Karena belum ada hubungan diplomatik, kita sebagai orang akademis, wartawan, atau intelektual punya peran sangat penting untuk mengenal satu sama lain. Yang saya lakukan, saya mengajar bahasa Indonesia dan mengundang orang-orang untuk berbicara beragam topik lain mengenai Indonesia yang memang tidak bisa saya ajarkan karena saya orang sastra.

Saya merasa cukup berhasil memperkenalkan Indonesia sedikit kepada mahasiswa Israel dan memperluas pikiran mereka. Itu tujuan saya.

Jadi setahu Anda, Anda satu-satunya pengajar bahasa Indonesia di Israel?

Ya.

Selain mahasiswa Anda, apakah Anda pernah bertemu orang Israel lain bisa berbahasa Indonesia?

Saya tahu ada karena wisatawan dari Indonesia datang ke Israel berjumlah besar. Saya punya rekan orang Jerman meneliti peziarah dari Indonesia, muslim dan Kristen, datang ke Israel dan palestina. Menurut dia, sekitar 40 ribu peziarah dari Indonesia datang ke Israel setiap tahun.

Ada pemandu wisata Israel sudah bertahun-tahun melayani peziarah dar Indnesia sudah pintar berbahasa Indonesia.

Apakah Anda berencana membuka kursus bahasa Indonesia selain mengajarkan di kampus?

Saya kadang memikirkan hal itu dan itu gagasan baik tapi nggak ada waktu. Saya memiliki banyak mengajar, banyak tugas administrasi, membimbing mahasiswa S2 dan S3, punya keluarga. Mungkin nanti kalau sudah pensiun.

Bagaimana tanggapan dari tetangga soal Anda bisa dan mengajar bahasa Indonesia?

Ada orang tahu dan juga tidak tahu. Respon mereka beragam. Saya selalu ditanya kenapa Anda tertarik dengan Indonesia. Memang belum banyak orang Israel datang ke sini (Indonesia). Kadang saya bertemu dengan beberapa orang Israel pernah ke Indonesia dan bercerita betapa menariknya Indonesia.

Kadang ada juga orang Israel sudah pensiun ikut kuliah saya tentang Indonesia karena mereka sudah ke Indonesia dan ingin lebih mengerti. Atau mereka ada rencana mau ke Indonesia dan mau mempersiapkan diri.

Biasanya orang Israel berkunjung ke Indonesia adalah orang lebih tua dan mampu karena tur dari Israel ke Indonesia mahal sekali.

Apakah anak-anak Anda juga bisa berbahasa Indonesia?

Tidak bisa. Waktu saya tinggal di Yogyakarta selama setahun pada 2003. Waktu itu saya punya dua anak. Mereka masuk TK dan bisa berbahasa Indonesia, tapi cepat lupa karena tidak dipakai.

Apakah anak-anak Anda menyukai makanan Indonesia?

Mereka suka Indomie. Itu kan gampang, saya tidak usah masak.

Apakah Anda suka membuat masakan Indonesia untuk keluarga?

Tidak sering, kadang-kadang saja. Selama beberapa tahun terakhir ada orang Israel bikin tempe di rumahnya. Jadi sebulan sekali, dua bulan sekali, saya membeli tempe itu untuk dimasak tempe goreng.

Dia itu satu-satunya orang membikin dan menjual tempe di Israel.

Siapa namanya?

Roit, saya tidak tahu nama lengkapnya.

Berapa harga tempe itu?

Sekitar 16 shekel tapi tempe buatannya enak.

Di mana dia belajar membuat tempe?

Katanya belajar di Jepang, belajar bikin tahu dan tempe.

Sudah berapa lama Anda berlangganan tempe?

Sejak tiga tahun lalu.

Apa mimpi ingin Anda raih terkait Anda sebagai pengajar bahasa Indonesia di Israel?

Sebenarnya saya ingin supaya hubungan akademisi dan mahasiswa di Israel dan Indonesia bisa lebih erat karena sampai sekarang susah. Mahasiswa dengan paspor israel tidak bisa masuk ke sini (Indonesia). Mimpi saya salah satunya adalah mengantar grup mahasiswa Israel ke sini supaya mereka bisa lihat dari dekat.

Karena kalau duduk di Yerusalem, belajar bahasa, belajar tentang kebudayaan, menonton tarian Jawa, wayang, itu semua menyenangkan sekali. Tapi jauh lebih menyenangkan kalau bisa lihat dari dekat dan berinteraksi langsung dengan orang di sini.

Penyanyi asal Indonesia Kiki Amalia dan penyanyi Arab Saudi Majid al-Muhandis saat diminta tampil di istana Puteri Nuf binti Al-Muktasim bin Saud bin Abdul Aziz di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, Januari 2019. (Kiki Amalia buat Albalad.co)

Saya penyanyi langganan keluarga kerajaan Arab Saudi

Puteri Nuf dan Puteri Nura paling perduli dan super baik, memberikan saya fasilitas dan selalu perhatian sama saya. Juga Puteri Jawahir memfasilitasi saya untuk dapat izin tinggal di Saudi.

Saudi female activist Lujain al-Hazlul was detained since May 2018. (Walid al-Hazlul for Albalad.co)

Bin Salman's confidant threatened to rape her

"There has been sexual harassment. Saud al-Qahtani (Saudi's Crown Prince Muhammad bin Salman's confidant) however once said to her that he will rape her before he kills her," said Walid al-Hazlul.

Profesor Ronit Ricci berpose bareng Sapri Sale di tempat kursus bahasa Ibrani di Jakarta. (Albalad.co/Istimewa)

Pengajar bahasa Indonesia di Israel kunjungi kursus bahasa Ibrani di Jakarta

Ronit adalah satu-satunya pengajar bahasa Indonesia di negara Zionis itu. Sapri juga satu-satunya pengajar bahasa Ibrani secara terbuka di Indonesia.

Profesor Ronit Ricci, salah satu penggemar tempe asal Israel. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Satu-satunya pembuat sekaligus penjual tempe di Israel

Harga sepapan tempe di Israel Rp 61 ribu.





comments powered by Disqus

Rubrik wawancara Terbaru

Saya penyanyi langganan keluarga kerajaan Arab Saudi

Puteri Nuf dan Puteri Nura paling perduli dan super baik, memberikan saya fasilitas dan selalu perhatian sama saya. Juga Puteri Jawahir memfasilitasi saya untuk dapat izin tinggal di Saudi.

20 Agustus 2019

TERSOHOR