wawancara

Kami butuh dukungan pengusaha untuk praktekkan ilmu pertanian kami pelajari di Israel

Belajar ilmu pertanian di Israel berarti belajar menyayangi tanaman kita.

28 Juni 2021 00:45

Sebanyak 81 mahasiswa Indonesia belajar ilmu pertanian sekaligus magang di Israel sudah pulang semua. Sebanyak 41 orang tiba di tanah air pada 10 Juni lalu adalah rombngan terakhir dari 81 mahasiswa Indonesia belajar di kampus bernama the Arava International Center for Agricultural Training (AICAT), berlokasi di wilayah Arava, selatan Israel, untuk periode 2019-2020.

Di sini, terdapat seribuan mahasiswa dari beragam negara berkembang, termasuk dari Asia, Pasifik, dan Afrika, mengikuti pendidikan pertanian tiap tahun. Mulai dari pengembangan bibit hingga pemasaran produk hasil panen.

Sila baca: Belajar bertani di negara Zionis

Menurut Costa, koordinator mahasiswa Indonesia di Israel, dia bersama teman-temannya sangat ingin mempraktekkan ilmu telah mereka pelajari selama di negara Zionis itu. Karena bukan hanya belajar di kelas, mereka juga magang di lahan-lahan pertanian Israel.

Namun karena minimnya modal, mereka mengharapkan dukungan para pengusaha Indonesia. Costa dan para alumnus dari Israel sudah memiliki proyek agro wisata ingin mereka kembangkan di Nusa Tenggara Timur.

"Tapi kalau (proyek agro wisata) itu cuma dari kami, otomatis tidak bisa jalan karena sejauh ini sokongan dana pun minim," kata Costa dalam wawancara khusus dengan Faisal Assegaf dari Albalad.co melalui telepon selulernya Selasa pekan lalu. "Kami hanya patungan dan sebagian besar lahan pun kami menggunakan sistem sewa."

Berikut penuturannya:

Sudah berapa lama Anda menjadi koordinator bagi mahasiswa Indonesia belajar pertanian di Israel?

Saya sudah tiga tahun menjadi koordinatr.

Berarti sejak 2018?

Iya.

Bagaimana Anda bisa dipilih menjadi koordinator?

Itu melalui wawancara. Setelah kita mengenyam pendidikan di AICAT, ada seleksi untuk anak-anak yang memiliki rangking. Kita dipilih kemudian diwawancara. Sehabis diwawancara, mereka (panitia seleksi) akan menentukan pilihan siapa mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk mengkoordinir anak-anak.

Kapan Anda mengikuti pendidikan di AICAT?

Pada 2017.

Apa kelebihan belajar di AICAT?

Banyak sekali keahlian bisa kita dapatkan, tergantung bagaimana kita menggalinya. Karena tidak semua orang bisa memaparkan apa yang kita inginkan, tergantung bagaimana kemauan kita untuk mengetahui informasi diberikan.

Saya rasa banyak sekali yang bisa didapatkan informasi di AICAT. Di sana kita bukan hanya belajar tentant pertanian, tapi bagaimana belajar tentang pemimpin komunitas. Itu juga salah satu bagian penting saya serap untuk bagaimana bisa memimpin atau mengkoordinir orang lain.

Apakah belajar pertanian di AICAT itu mulai dari hulu sampai hilir?

Tidak selengkapnya dari hulu sampai hilir. Di sana itu tiap orang (mahasiswa) punya bagian masing-masing. Seperti petani, dari hulunya. Sedangkan orang-orang bergerak di hilir, dia akan benar-benar memahami sektor hilir dan cuma sekadar mengenal saja sektor hulu. Sedangkan orang-orang di hulu, juga demikian.

Berarti mahasiswa Indonesia belajar pertanian di AICAT mulai dari hulu ke hilir?

Iya belajar dari hulu sampai hilir tapi di tempat prakterknya sendiri ada yang dapatnya di hulu, ada yang dapatnya di hilir. Saya sendiri dapatnya di hilir karena saya dapatnya di tempat pengepakan. Jadi saya tidak begitu mengenal di hulunya. Kalau masalah di hilir, pengepakan, hampir semuanya saya kuasai.

Jadi apa manfaat terbesar belajar pertanian di Israel?

Manfaatnya sangat besar soal bagaimana cara pandang kita terhadap pertanian kita jalankan di Indonesia. Hampir semua petani di Indonesia masih menggunakan sistem konvensional sudah mulai kuno. Sekarang kita mesti berpindah ke pertanian lebih intensif.

Artinya, orang betul-betul memperhatikan tanamannya, menyayangi tanamannya, bahkan bisa mengetahui tanaman ini butuh air dan pupuk seberapa banyak dalam satu hari.

Bukan hanya mengetahui hal-hal tersebut, tapi bisa kita impelemntasikan setiba kita di Indonesia. Sehingga kita bisa memperkirakan hasil akan kita capai dan bisa kita jual sesuai pasar. Saya bisa mengemas agar orang-orang lebih tertarik meski produk kita sama kualitasnya dengan punya orang lain.

Tapi untuk mempraktekkan bertani cara Israel butuh teknologi?

Sangat-sangat mungkin untuk bisa kita praktekkan karena teknologi ini ada beberapa bagian, teknologi masih awal dan yang sudah maju. Tergantung dari wilayah mana kita mau bertani. Seperti di daerah saya kering dan kondisi tanahnya tidak terlalu subur, mungkin teknologi Israel mungkin bisa kita pakai seluruhnya dengan teknologi dari yang berkembang sampai yang sudah maju.

Untuk daerah-daerah tanahnya subur dan kondisi airnya memungkinkan, tidak harus kita menggunakan sistem irigasi tetes (drip irrigation) atau sudah teknologi sudah terlalu maju. Karena akan mubazir uang kita. Kalau airnya banyak, kita bisa menggunakan sistem irigasi lain.

Di Israel, khususnya di wilayah Arava (selatan Israel), para petaninya tidak terlalu menggunakan teknologi terlalu maju. Tapi mereka mencoba menggunakan teknologi ini efektif untuk hasil pertanian saya? Jadi kita harus menghitung dulu sebelum kita menggunakan sebuah teknologi. Tidak semata-semata kita mengambil, menyalin, dan memakai semuanya di Indonesia.

Saya harus menghitung luas lahan saya, sistem pertanian saya, dan bagaimana kondisi pasar saya, baru kita bisa mengimplementasikan teknologi kita mau pakai.

Apakah ada rencana menggandeng pemerintah atau pengusaha lokal agar ilmu diperoleh para mahasiswa Indonesia bisa dipraktekkan?

Saya sangat-sangat ingin menggandeng orang-orang punya modal untuk bisa menyewakan lahan. Apalagi pemerintah daerah, kalau bisa menyiapkan wadah bagi kami untuk bisa menyalurkan ilmu sudah kami pelajari. Sejauh ini, orang-orang bermodal masih ragu untuk terjun ke dunia pertanian dan berinvestasi di pertanian.

Pemerintah daerah pun belum menyediakan wadah untuk teman-teman sudah balik (dari belajar pertanian di Israel). Sekalipun kami mencoba untuk mempresentasikan rencana bisnis pertanian sudah kami buat, orang-orang akan sekadar melihat. Tanggapannya itu tidak wow terhadap rencana kami buat.

Saya berusaha menggandeng teman-teman untuk membuat proyek percontohan di Kupang dengan menggunakan teknologi sudah disederhanakan dan bisa dipakai oleh petani lokal. Jadi saya mau membuat agro wisata, di mana setiap bagian itu punya teknologi-teknologi sudah kami lihat dan kami sederhanakan, sehingga petani-petani di sini sangat mudah untuk menggunakan teknologi itu.

Tapi kalau (proyek agro wisata) itu cuma dari kami, otomatis tidak bisa jalan karena sejauh ini sokongan dana pun minim. Kami hanya patungan dan sebagian besar lahan pun kami menggunakan sistem sewa.

Mungkin beberapa bulan mendatang, (proyek agro wisata itu) akan langsung jalan tapi tidak langsung muncul ke permukaan atau wow. Mungkin kami akan sangat bertahap karena dengan dana sangat minim cukup lambat, tapi hasilnya akan terlihat nanti.

Kalau ada pengusaha tertarik untuk memberikan dukungan modal, bagaimana tanggapan Anda?

Kami sangat terbuka, tergantung proyeknya. Artinya, kalau proyek itu sama-sama menguntungkan, sama-sama nyaman di dalamnya, kita pasti jalan. Sebab sebuah proyek akan bertahan lama, berjalan dengan baik, kalau kedua pihak merasa nyaman berada di situ.

Artinya, kita sebagai pembuat atau penyelenggara (proyek) tidak terintervensi seluruhnya. Jadi kita punya kebebasan untuk berekspresi dan berkreasi karena di dunia pertanian itu kreasi tanpa batas.

Bagaimana tanggapan masyarakat Israel terhadap para mahasiswa Indonesia selama belajar di sana?

Orang-orang Israel sangat kooperatif, sangat bisa diajak untuk bekerjasama. Mereka itu bisa menjadi pendengar baik dan bisa aktif dalam pembicaraan. Contohnya, kalau kita punya keluhan, mereka akan mendengarkan. Setelah itu mereka akan berbicara dan kita harus mendengarkan.

Tanggapan orang-orang di sana terhadap para pelajar Indonesia, mereka sangat menyambut baik. Mereka tidak menutup tangan terhadap orang-orang dari Indonesia, bahkan tangan mereka sangat terbuka.

Mereka bahkan kayak kaget ada orang Indonesia di sini (Israel). Loh, ternyata ada sekian banyak pelajar Indonesia di sini (Israel). Mereka senang dengan keberadaan kita. Mereka ingin mempelajari budaya-budaya kita.

Tanggapan mereka sangat positif. Jadi itu bisa memberikan rasa aman, nyaman bagi teman-teman pelajar.

Apakah ada interaksi khusus dengan masyarakat setempat selama mahasiswa Indonesia belajar di Israel?

Kalau acara-acara besar sulit untuk dikkordinasi karena kita belajar bersama petani. Saya sendiri banyak sekali diundang ke acara-acara anak muda baru lulus SMA sebelum mulai mengikuti wajib militer atau yang sudah selesai wajib militer. Hanya saja kami kesulitan mencari waktu karena kesibukan anak-anak (mahasiswa Indonesia) saat magang.

Saya pernah bercerita mengenai Indonesia kepada anak-anak muda Israel baru selesai melaksanakan wajib militer. Mereka sangat tertarik dengan budaya Indonesia, sistem bertani otrang Indonesia, kehidupan masyarakat, dan kondisi alam. Mereka sangat antusias mendengarkan cerita saya dan sangat ingin datang ke Indonesia.

Bahkan mereka bertanya apakah bisa datang ke Indonesia menggunakan paspor Israel. Saya sendiri tidak tahu sehingga saya tidak bisa menjawab pertanyaan mereka itu.

Dalam tiga tahun terakhir, mahasiswa Indonesia belajar pertanian di Israel, paling banyak dari daerah mana asal mereka?

Sampai sekarang kuota mahasiswa terbanyak dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, sekitar 45-50 persen. Sisanya dari Sumatera Utara, Maluku, dan Toraja. Mahasiswa dari Toraja baru bergabung dalam program belajar ertanian di Israel tahun kemarin.

Dari semua mahasiswa Indonesia belajar pertanian di Israel saban tahun, apakah ada mahasiswa muslim ikut?

Kalau teman-teman muslim, tidak menutup kemungkinan bagi mereka untuk bergabung, cuma pemeriksaan keamanan di perbatasan (imigrasi) itu susah. Karena itu, sejauh ini kita belum berani untuk mengambil teman-teman muslim Karena pemeriksaan keamanannya sangat sulit untuk ditembus, bahkan kita yang beragama lain pun, dicek sangat detail.

Untuk mempermulus, kita menahan dulu. Tetapi kalau orang-orang di sana sangat menyambut baik mahasiswa dari Indonesia.

Pada tiga tahun terakhir, berapa jumlah mahasiswa Indonesia belajar pertanian di Israel?

Untuk periode 2017-2018 dan 2018-2019 sebanyak 50 orang, Di periode 2019-2020 dinaikkan kuotanya menjadi 80 orang. Kita berharap untuk periode berikutnya kuota pelajar dari Indonesia digenapkan menjadi seratus orang.

Proses seleksi untuk tiga tahun terakhir berlangsung di mana?

Di Medan, Kupang, Ambon, dan Toraja.

Bekerjasama dengan kampus mana saja?

Di Medan, seleksi dilakukan di Universitas Sumatera Utara dan DEL Institute. Di Kupang dengan Universitas Nusa Cendana, Universitas kristen Artha Wacana, Politeknik Pertanian. Di Ambon di Universitas Pattimura. Di Toraja ada di Universitas Kristen Indonesia Toraja.

Jadi seleksi lewat kampus-kampus itu?

Bukan lewat kampus-kampus itu tapi istilahnya bernaung di situ. Karena kebanyakan alumnus berasal dari situ.

Siapa yang menyeleksi?

Para alumni dan memiliki kapasitas untuk melakukan seleksi.

Kapan proses seleksi dilakukan?

Tiap Februari sampai Maret.

Berapa biayanya?

Gratis, sama sekali tidak ada biaya. Cuma tiket pesawat ke Israel ditanggung sendiri.

Wisuda mahasiswa Indonesia belajar pertanian di Israel pada 20 Mei 2021. (Albalad.co)

Pengiriman mahasiswa Indonesia ke Israel tertunda gegara pandemi Covid-19

Program dengan AICAT ini telah berlangsung sejak 2014. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia dikirim ke sana belajar pertanian selama sepuluh bulan dengan pola satu hari di kelas dan lima hari magang bekerja di lahan pertanian.

Rombongan 41 mahasiswa Indonesia di Bandar Udara Ben Gurion di Ibu Kota Tel Aviv, Israel, pada Juni 2021 jelang kepulangan ke Indonesia. (Albalad.co)

Rombongan mahasiswa Indonesia selesai belajar di Israel telah tiba di Jakarta

Mereka termasuk dalam 81 mahasiswa Indonesia belajar pertanian di Arava International Center for Agricultural Training (AICAT) untuk periode 2019-2020.

Sebanyak 41 mahasiswa Indonesia pada 8 Juni 2021 menjalani tes PCR sebelum terbang meninggalkan Israel pada 10 Juni 2021. Mereka kembali ke tanah air setelah belajar pertanian di kampus AICAT di selatan Israel. (Albalad.co)

Belajar bertani di negara Zionis

Sayangnya tidak ada keterlibatan pemerintah Indonesia. Alhasil, setiap lulusan AICAT tidak tersalurkan ilmu dan pengalamannya.

Sebanyak 60 mahasiswa Indonesia belajar pertanian di Israel diwisuda pada 20 Mei 2021. (Albalad.co)

44 mahasiswa Indonesia tersisa tinggalkan Israel Kamis pekan depan

Sebanyak 60 orang ini bagian dari 81 mahasiswa Indonesia belajar pertanian di Israel buat periode 2019-2020. 





comments powered by Disqus