buku

Terlunta-lunta di Laut Mediterania

"Bagi kami rakyat Libya, NATO adalah penolong dan membantu membebaskan kami dari diktator (Muammar Qaddafi)."

12 September 2015 22:31

Mungkin buat orang lain ini sedikit berlebihan, tapi itu yang saya rasakan. Pelayaran sehari semalam dari Benghazi menuju Tripoli rasanya seperti terlunta-lunta. Bayangkan saja, jika ada pesawat ke sana hanya perlu satu jam. Buruk-buruknya dengan mobil, cuma butuh sepuluh jam.

Apalagi ketidaknyamanan itu terasa sebelum kapal bernama Ionis ini berangkat. Jadwal membuang sauh pada Senin, 5 September 2011, itu mestinya jam sepuluh pagi. Namun kenyataannya, seluruh penumpang baru bisa naik pukul 12 siang, seperti dikutip dari buku Rahasia Muammar al-Qaddafi karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, November 2011).

Itu pun tidak langsung pergi. Kami mesti menunggu hingga seperempat jam menjelang azan magrib, baru Ionis memiliki dua dek dan mengangkut sekitar 500 penumpang serta 50 kendaraan berlayar.

Tapi mau bagaimana lagi, hanya ini satu-satunya alat transportasi menuju Tripoli. Libya yang wilayah daratannya luas tidak memiliki jaringan kereta. Dengan mobil tidak bisa karena harus melewati Sirte, kini dikuasai pasukan Muammar al-Qaddafi. "Pesawat juga tidak ada," kata Ismail, warga Tripoli ditemui di pintu pelabuhan.

Tiket kapal ini juga lumayan mahal. Jika ingin kamar harus merogoh US$ 150. Kalau cuma di luar cukup US$ 75. Meski begitu, kapal tidak ada tiap hari. Paling banter dua hari sekali dengan rute menuju Misrata dan Tripoli.

Parahnya lagi, makan siang baru datang jam lima sore, ketika perut keroncongan saya sudah lewat. Dari pengalaman ini, saya bisa membaca gaya hidup rata-rata orang Libya, yakni tidak disiplin dengan waktu.

Dalam perjalanan dari hotel tempat saya menginap ke Pelabuhan Juliana, Benghazi, saya terpaksa menumpang mobil pribadi lantaran taksi dipesan hingga setengah jam belum datang. "Sebentar lagi, sebentar lagi," ujar resepsionis hotel meminta saya bersabar.

Menu makan siang terlambat itu adalah makaroni dicampur irisan ikan tuna dengan bumbu pasta. Menu besoknya pun sama. Sedangkan sarapan diberi khubza plus susu dan minuman kotak. Khubza ini sejenis roti terbuat dari tepung gandum. Bedanya dengan di Indonesia, perlu sedikit tenaga untuk menggigit. Khubza dimakan dengan selai dan keju.

Seperti kebiasaan orang Libya, buat melegakan tenggorokan diberi minuman kotak rasa buah selain sebotol air kemasan. Karena takut kelaparan seperti tadi siang, saya mengambil makanan lebih untuk persiapan di kamar. Tapi karena keburu mengantuk, saya tidak makan dan baru bangun besok subuh.

Di pelabuhan saya juga mesti menahan kekesalan. Tadinya ada yang berbaik hati menawarkan tumpangan dari tempat tunggu ke kapal. Tapi menanti sampai setengah jam, mobil milik teman Ismail tidak datang. Syukurlah, saya tidak nekat berjalan kaki ke kapal. Tadinya saya pikir dekat. Masya Allah, jaraknya dua kilometer. Belum lagi panas menyengat dan debu pasir beterbangan.

Setelah sangat bersabar, tumpangan itu datang. Sebuah Mercedes Benz berwarna hijau tahi kuda. Seperti kebanyakan mobil di Benghazi, Mercedes tipe C 200 ini sama sekali tidak terurus. Bopeng tampak di sana sini. Catnya kusam dan bahkan plafon mobil sudah tidak ada. Praktis, mobil tergolong mewah itu seperti angkutan umum saja.

Saya juga sempat bermasalah setelah seorang petugas keamanan memaksa ingin menghapus foto-foto suasana penjagaan di pintu pelabuhan. Dia takut gambar-gambar itu akan diketahui oleh pasukan Muammar Qaddafi. Untung saja Ismail ikut membela. "Ini bukan lagi zaman Qaddafi, kita sekarang sudah hidup bebas." Sambil bersungut-sungut, petugas berkulit gelap dan berseragam serba biru itu masuk ke kantornya.

Kapal pun berlayar setelah semua penumpang dan kendaraan (mobil serta truk) masuk. Bedanya, mobil-mobil diparkir hingga ke atas dek. Sedangkan di Indonesia, mobil hanya sampai di lambung kapal.

Untung saja tidak seperti saya bayangkan sebelumnya. Saya bakal mabuk karena gelombang tinggi Laut Mediterania. Kapal melaju tenang dengan kecepatan sekitar 50 kilometer per jam. Saya sekamar dengan tiga orang, yakni Abdul Hakim (dari Misrata), Farag (Benghazi), dan Ismail (Tripoli).

Abdul Hakim dan Ismail berusia sekitar 40 tahunan, karena itu saya memanggil keduanya dengan sebutan ami (berarti paman dalam bahasa Arab). Sedangkan Farag sudah lebih dari 70 tahun namun masih bekerja di perusahaan kontraktor. Saya memanggil dia Jid Farag. Mereka semua sangat baik dan membantu saya mengambil sarapan, makan siang dan malam. Alhasil, saya tidak perlu ikut antrean panjang layaknya pengungsi.

Kami bertiga sepakat Ismail orangnya banyak omong dan suka cari masalah. Dia sampai berdebat sengit hanya gara-gara mempertahankan pendapatnya, yakni Kota Al-Baida mempunyai laut. Saya pernah ke sana sebelumnya membantah. Tapi Ismail keras kepala. Dia juga terlibat pertengkaran untuk hal serupa saat makan siang.

Ruangan saya tempati berukuran 4x4 meter persegi, dilengkapi kamar mandi dengan pancuran dan lemari pakaian. Tempat tidurnya bersusun dua. Di dekat jendela ada meja berlaci tiga. Sayang tidak ada jaringan Internet, sehingga saya tidak bisa buru-buru mengirim laporan ini dari atas kapal.

Setelah berlayar 26 jam, Ionis akhirnya berlabuh di Tripoli pada Selasa, 6 September 2011, pukul sembilan malam. Namun sampai dua jam kemudian tidak ada perintah turun dari kapal. Kapten kapal mengumumkan NATO akan memeriksa seluruh isi dan penumpang kapal. Mereka curiga ada orang-orang Qaddafi menyusup. "Selentingan beredar, semalam ada tiga orang Qaddafi ditangkap di atas kapal," tutur Jid Farag.

Kami pun mendapat makan tengah malam. Menunya cuma nasi bercampur semacam bumbu makaroni, minuman kotak, dan apel. Saya sangat kesal dengan NATO dan menganggap mereka tukang cari masalah. Tapi Jid farag tersinggung dengan penilaian itu. "Bagi kami rakyat Libya, NATO adalah penolong dan membantu membebaskan kami dari diktator (Muammar Qaddafi)."

Karena itu menjelang subuh, kapal bergerak keluar dari perairan Libya sebab NATO tidak diizinkan masuk. Pemeriksaan bakal dilakukan di perairan internasional. Syukurlah, besoknya jam delapan pagi, kapten kapal mengumumkan Ionis dibolehkan berlabuh di Tripoli.

Ketika kapal benar-benar berhenti, polisi masuk ke kamar dan meminta identitas saya. Ternyata kartu pers tidak cukup, saya mesti menunjukkan surat dari orotitas di Benghazi. Tapi saya tidak punya itu. "Katanya Libya sudah bebas, kenapa masih seperti Qaddafi membatasi gerak gerik orang, termasuk warga sipil," kata saya menyindir. Setelah berdebat dan dibantu warga Libya lainnya, saya akhirnya dibolehkan turun dari kapal.

Setelah dua hari dua malam, saya akhirnya tiba di ibu kota Libya itu pada Rabu, 7 September 2011, pukul sepuluh pagi. Semoga saja perjalanan melelahkan, membosankan sekaligus menyebalkan ini tidak terulang sepulang dari Tripoli. Amin

Seorang warga Libya sedang memukuli boneka pemimpin negara itu Muammar al-Qaddafi di kompleks kediaman Qaddafi di Bab al-Aziziyah, Ibu Kota Tripoli, Libya, September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kekayaan Muammar al-Qaddafi

Dia memiliki saham di 72 perusahaan tersebar di lebih dari 45 negara.

Foto pemimpin Libya Muammar al-Qaddafi diinjak orang melintas dan dilindas mobil. Foto ini diletakkan di gerbang Bab al-Aziziyah, kompleks kediaman Qaddafi di Ibu Kota Tripoli, 7 September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Serba nyaman dan mewah

Anak-anak Qaddafi adalah pelanggan setia Mariah Carey, Beyonce, dan Usher.

Seorang warga Libya sedang memukuli boneka Muammar Qaddafi di kompleks kediaman Qaddafi di bab al-Aziziyah, Ibu Kota Tripoli, Libya, 7 September 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pribadi eksentrik

Dia takut terbang lama (lebih dari delapan jam) dan di atas air. Dia tidak suka berada di gedung tinggi atau menaiki lebih dari 35 anak tangga.

Tidak suka pangkat jenderal

Qaddafi beralasan karena Libya diperintah oleh rakyat, jadi dia tidak memerlukan pangkat tertinggi dalam militer.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Bekerja lagi untuk Pangeran Misyari

Mark Young tidak bisa merayakan Natal bersama keluarganya pada 1982 karena harus menemani Pangeran Misyari membeli vila di Marbella.

09 Juni 2018

TERSOHOR