IQRA

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (3)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

01 Maret 2021 13:29

Pertemuan Saif al-Adl dengan Usamah Bin Ladin kemungkinan terjadi di Arab Saudi, ketika pendiri jaringan Al-Qaidah ini kerap bolak balik ke negara Kabah itu untuk proses perekrutan. Pemerintah negara Kabah itu sekitar 1980-an memang menawarkan subsidi harga tiket bagi para pemuda ingin ke Afghanistan buat berjihad menghadapi pasikan Uni Soviet.

Hingga akhirnya Saif pun bergabung dan menggunakan pengalaman sekaligus kemampuannya sebagai mantan prajurit Mesir, seperti ditulis Ali Soufan dalam buku Anatomy of Terror: From the Death of Bin Laden to the Rise of the Islamic State dan dilansir oleh CTC Sentinel pada 21 Februari 2021.

Amerika Serikat tidak ingin mengulangi kekalahan mereka waktu Perang Vietnam satu dasawarsa sebelumnya. Karena itu, negara adikuasa ini memasok ratusan senjata peluncur peluru kendali FIM-92 Stinger bisa ditenteng di bahu untuk menghancurkan helikopter tempur Soviet, Hind.

Salah satu tugas Saif selama di Afghanistan adalah mengajari para mujahidin menggunakan peluncur peluru kendali FIM-92 Stinger. Bertahun-tahun kemudian, dia juga mengajari para anggota milisi Asy-Syabab di Somalia menghadapi helikopter tempur Amerika, Black Hawk.

Soviet akhirnya mundur setelah menandatangani perjanjian damai pada 1988. Sebagian mujahidin dari negara-negara Arab pulang ke tanah air mereka, namun hampir semua pejuang asal Mesir tidak bisa kembali. Sebab rezim Presiden Husni Mubarak bakal menangkap mereka.

Di akhir musim panas 1988, para jihadis garis keras di Afghanistan membentuk sebuah kelompok bernama Al-Qaidah al-Askaria (Basis Militer). Mereka menyebut kelompoknya itu sebagai faksi Islam terorganisir bertujuan menyuarakan firman Allah dan memenangkan agama Islam di mana saja. Jihadis pelancong atau dari negara lain tidak bisa menjadi anggota kecuali mereka terlibat dalam perang mengusir tentara Soviet.

Pertempuran besar pertama Al-Qaidah terjadi pada Februari 1989 merebut Kota Jalalabad Najibullah dukungan Rusia. Saif ikut dalam palagan ini namun tidak mau dipotret oleh wartawan. Rupanya Oertempuran Jalalabad itu menjadi petaka bagi Al-Qaidah. Sebanyak tiga ribu pejuang Al-Qaidah terbunuh atau seperlima dari total tentara Al-Qaidah.

Bin Ladin menderita luka akhirnya kembali ke Arab Saudi dan menetap selama dua tahun. Ketika Bin Ladin menyembuhkan cederanya di Kota Jeddah, karier Saif meroket. lantaran pengalaman bertempur dan intelijennya. Dia akhirnya ditunjuk menjadi kepala kamp pelatihan Faruq. Saif mengajarkan cara membuat bom, pengumpulan informasi dan kontraintelijen.

Di antara murid Saif waktu itu adalah Ramzi Yusuf, menjadi pelaku pengeboman gedung World Trade Center pada 1993. Kemudian Harun Fazul, pemimpin sel Al-Qaidah meledakkan Kedutaan Besar Amerika di Ibu Kota Nairobi (Kenya) dan Ibu Kota Daar as-Salam (Tanzania) pada 1998. Lalu L'Husain Kertchou, berbalik menjadi saksi negara dalam sidang kasus pengeboman dua Kedutaan Amerika itu.

Dengan insting militer tajam, Saif mampu meningkat kualitas pelatihan bagi serdadu Al-Qaiah. Dia membangun sebuah prosedur standar atas segalanya, mulai dari taktik bertempur sampai pengarsipan.

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Di acara wisuda taruna Al-Qaidah di kamp Khaldan pada Agustus 1990, Saif dan para muridnya berencana memamerkan kemampuan menggunakan bahan peledak saat mencegat musuh waktu itu menggunakan truk.

Dua anggota Al-Qaidah bersembunyi di sasis truk. Bom diledakkan hingga satu pohon tumbang menghalangi jalannya truk. Tentara Al-Qaidah kemudian mulai menembak. Tapi di tengah unjuk kemampuan itu, sopir truk, yakni lelaki Mesir berumur 40-an tahun keluar dengan santainya.

Dia adalah Mustafa Hamid, pejuang legendaris terlibat dalam perang melawan Soviet di Afghanistan. Di kalangan mujahidin Arab waktu itu, dia dikenal dengan nama Abu Walid al-Masri. Dia termasuk salah satu mujahidin Arab pertama ikut memerangi Sovuet di Afghanistan.

Saif al-Adl lalu mendekati Mustafa seraya tertawa. Itulah pertama kali keduanya berjumpa. Sedangkan dua muridnya bersembunyi di sasis truk keluar dengan wajah kaget. Acara pamer kebolehan berlangsung serius langsung bubar.

Saif dan Mustafa lantas minum teh bareng sambil mengobrol soal pasukan Amerika mulai tiba di Arab Saudi buat mengusir tentara Irak dari Kuwait. Pertemuan itu menjadi awal persahabatan mereka.

Sampai akhirnya Saif menjadi mantu, ketika di menikahi Asma, putri Mustafa kala itu berusia 15 tahun. Perkawinan ini makin menguatkan posisi Saif dalam jantung gerakan jihadis.

 

 

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (FBI)

Saif al-Adl: setia, efisien, dan pragmatis

Saif adalah pemimpin baru Al-Qaidah lebih berbahaya ketimbang Bin Ladin.

Poster menunjukkan pemimpin baru Al-Qaidah, Saif al-Adl, dan mendiang Abu Muhammad al-Masri sebagai buronan Amerika Serikat. (US State Department)

Saif al-Adl pemimpin baru Al-Qaidah

Dewan Syura Al-Qaidah sudah menetapkan jalur suksesi pada 2015.

Haji Bakar, perancang ISIS. (france24.com)

Kuat karena Baath

Sejak rezim Saddam terguling akibat invasi Amerika pada 2003, orang-orang ini kehilangan penghasilan dan kekuasaan. Sekarang ISIS menjadi kendaraan buat mereka memperoleh kembali status itu.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

26 Februari 2021

TERSOHOR