kisah

Rengekan jihadis Prancis

"Saya benar-benar marah karena iPod saya tidak bisa dipakai di sini. Saya harus pulang," tulis seorang jihadi dalam suratnya.

02 Februari 2015 13:54

Rupanya tidak semua orang pergi ke Irak dan Suriah untuk berperang bareng ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) memiliki niat sungguh-sungguh. Setiba di sana banyak dari mereka mengeluhkan keadaan, seperti dialami jihadis asal Prancis.

"Saya benar-benar marah karena iPod saya tidak bisa dipakai di sini. Saya harus pulang," tulis seorang lelaki Prancis mengeluarkan unek-uneknya dalam surat kepada keluarganya.

Surat kabar terbitan Prancis Le Figaro mendapat kesempatan membaca sebagian surat dikirim para jihadis asing bertempur bersama ISIS di Irak dan Suriah. Banyak yang merasa tidak senang, sebagian lagi memelas untuk kembali ke tanah air mereka.

Ada juga yang tersiksa karena mendapat tugas mengerjakan pekerjaan kasar. "Saya pada dasarnya tidak melakukan apapun kecuali mengantar pakaian dan makanan," kata seorang jihadis kini ada di Aleppo, Suriah. "Saya juga membantu membersihkan senjata dan mengangkut mayat dari medan tempur. Musim dingin sudah tiba di sini. Kondisinya mulai susah."

Yang lain menulis, "Saya marah sekali. mereka menyuruh saya bersih-bersih."

Surat lainnya menjelaskan bagaimana seorang pria dikirim ke palagan meski dia menolak. "Mereka mau mengirim saya ke pertempuran padahal saya tidak tahu bagaimana cara berperang."

Prancis merupakan salah satu pengekspor jihadis buat ISIS. Ada sekitar 376 warga Prancis tengah bertempur di Suriah, menurut koran the Telegraph. Sebanyak 76 dari seratus jihadis telah kembali Prancis sudah ditahan.

Menteri Dalam Negeri Prancis Bernard Cazeneuve bilang sekitar 930 penduduk dan warga Prancis, termasuk 60 perempuan, sudah bertempur di Irak dan Suriah atau berencana pergi ke dua negara itu. Kejaksaan Agung Prancis November tahun lalu menyebut 1.100 orang masuk dalam daftar pengawasan dan sedikitnya 95 orang sudah dikenai dakwaan.

Le Figaro menyebut sudah banyak jihadis Prancis ingin pulang karena tidak betah. Namun pemerintah menolak menerima mereka lantaran berisiko. Mereka khawatir para eks jihadis itu bakal terlibat serangan teror di Prancis. "Semua orang tahu makin lama orang-orang itu di sana membikin mereka kian berbahaya," kata seorang pengacara mewakili keluarga para jihadis Prancis. "Karena menyaksikan atau melakukan penyiksaan, mereka dapat menjadi bom waktu."

Menurut Hilal Khashan, profesor ilmu politik di American University of Beirut, pemerintah dari negara asal perlu menangani kejiwaan para jihadis itu sepulang mereka ke tanah air. Bukan memperlakukan mereka seperti penjahat. "Setelah menghabiskan waktu bertempur bersama ISIS, mereka sampai pada kesimpulan seburuk apapun pendapat mereka soal kehidupan di Barat masih jauh lebih baik ketimbang mereka hadapi sekarang," ujarnya.

Pada 13 November 2014 pihak berwenang Prancis memvonis jihadis pertama baru kembali dari Suriah. Flavien Moreau pergi ke Suriah tiga tahun lalu divonis tujuh tahun penjara meski dia mengaku hanya 12 hari berada di sana.

Tidak seperti Prancis, Denmark mengenalkan program rehabilitasi bagi kaum milutan baru kembali dari Suriah atau Irak. mereka dibantu kembali ke kehidupan normal tanpa diancam hukuman.

Bus Suriah penuh riasan di Palmyra. (Alamy)

Masih ada bus ke Aleppo dan Raqqah

Bus umum rute Beirut-Aleppo atau Beirut-Raqqah kerap menjadi sasaran milisi atau pasukan pemerintah Suriah.

Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi. Dia mengklaim sebagai khalifah setelah ISIS merebut Kota Mosul, Irak, Juni lalu. (theweek.com)

Jejak darah di sandal plastik

Hingga Juni 2014 penjara tadinya dihuni sedikitnya 23 orang berkurang menjadi tujuh tawanan.

ISIS eksekusi Alan Henning. (www.nydailynews.com)

Trio Amerika dan Inggris

Saat ISIS tengah berpacu dalam perundingan, kondisi dialami tawanan kian menyeramkan. Mereka bahkan cuma dikasih secangkir teh makanan saban hari.

Pasukan ISIS. (www.nbcnews.com)

Setelah ISIS berkuasa

Setelah berbulan-bulan menawan mereka tanpa membikin tuntutan, ISIS tiba-tiba saja membuat sebuah rencana untuk meminta uang tebusan.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR